hide

Read Next

Kerinduan Segala Zaman Bab-11 Yesus Dibaptiskan

Diskusi Bab-11 Yesus Dibaptiskan

Audiobook Bab-11 Yesus Dibaptiskan

Bab-11 YESUS DIBAPTISKAN

No Phone Zone

On Sui Generis

Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan salah satu tragedi yang repetitive terjadi di Indonesia. Bahkan setiap tahunnya, angka kematian yang disebabkan oleh kendaraan bermotor ini mengalami peningkatan secara gradual[1]. Tentu saja kita dapat berargumen bahwa pertumbuhan kapitalisme, peningkatan transaksi dan kuota penjualan kendaraan bermotor, dan –alasan yang lebih mikro dan spesifik, adalah kelalaian sang pengguna. Saya tidak akan memperdebatkan perihal alasan-alasan makro, terutama perihal pro dan kontra kebijakan mobil murah dan implikasinya terhadap proyeksi tingkat kecelakaan kendaraan bermotor. Menurut saya, lebih menarik untuk mengelaborasi lebih jauh perihal bagaimana mengatasi human error demi mengurangi kemungkinan-kemungkinan tersebut.

(http://i1.ytimg.com/vi/yGR9dkjeQGY/maxresdefault.jpg)

Menurut Willy Suwandi Dharma, Direktur Utama PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Finance), 90% kecelakaan kendaraan bermotor di Indonesia disebabkan oleh kesalahan pengguna kendaraan[2]. Kesalahan tersebut, sebenarnya bervariasi mulai dari penggunaan media telekomunikasi yang tidak bertanggung jawab, hingga ngupil. Agak ridiculous memang, tapi begitulah kenyataannya. Berbagai upaya untuk mengurangi kesalahan-kesalahan konyol inipun sudah banyak dilakukan sebenarnya. Upaya yang berskala nasional hingga personal, yang dilakukan oleh aktor-aktor pemerintah hingga swasata telah diupayakan, seperti melalui iklan layanan masyarakat, seminar dan lokakarya, hingga sosialisasi dinas-dinas terkait secara langsung ke berbagai institusi. Namun, mengapa hal tersebut masih kurang efektif?

Menurut saya ada dua alasan utamanya. Pertama adalah kurangnya peranan dari civil society. Pendekatan yang bersifat top-down¸ eksklusif, dan infiltratif memang telah banyak dilakukan oleh institusi pemerintah. Dan saya tidak mengatakan bahwa hal tersebut adalah upaya yang sia-sia (no, seriously, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menjangkau masyarakat dan kita patut mengapresiasi hal tersebut). Namun karena pendekatan ini bersifat eksklusif tadilah, masyarakat di level akar rumput (grassroots) merasa tidak dilibatkan. Alienasi terhadap partisipasi inilah yang menyebabkan inisiatif dan komitmen masyarakat untuk mengimplementasikan anjuran-anjuran dari pemerintah menjadi minim. Namun, apabila kita melihat dari kacamata yang bersebrangan, pernahkah kita bertanya, “Kalau saya mendukung alternatif solusi dari pemerintah, berarti saya telah melakukan sesuatu untuk keluarga, lingkungan, dan Negara saya, bukan?”. Nah, apabila kita dapat mengkritisi pemerintah, berarti seharusnya kita juga mampu mengkritisi diri kita sendiri. Dengan kita mengkritisi diri kita sendiri, artinya socio-political awareness individu maupun kelompok dapat meningkat. Setelah kesadaran tersebut ditingkatakan, maka civil society –yang berisikan kelompok-kelompok yang lebih kecil didalamnya, dapat melakukan apa yang saya sebut sebagai discursive-aggregation process. Proses agregasi kepentingan yang bersifat diskursif, dengan tujuan mencari satu tujuan yang berlandaskan pada general will, bukan interests of majority. Salah satu tujuan diskursif dalam kasus ini adalah untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan di masyarakat (yang dikategorikan sebagai human error) untuk mengurangi angka kecelakaan kendaraan bermotor.

Rendering New Theme...